Aku Jadi Ibu?

12:55 PM

#12WeeksPregnant 

Jujur… kalau ditanya reaksi pertama apa? Bingung. 

Mungkin ini bisa dibilang “diluar rencana” tapi… kalau ditanya apa rencana kami atau kapan rencana nya? Sebenarnya jawabannya yaa tidak ada yang pasti. Bukannya tidak merencanakan, tapi lebih ke “ Apakah rezeki seperti ini harus di tolak? “ Tidak kan…. 

Maksudnya adalah…. kami memang mau memiliki anak, tapi tidak sekarang. Tapi, jika memang Tuhan berkehendak sekarang, ini adalah rezeki yang harus di syukuri, bukan musibah yang harus di tangisi kan? Ya… kurang lebih seperti itu.

Jujur… aku pribadi tentu saja yang mengalami ini sungguh tidak siap. Siapa sih yang siap 100% lahir batin jadi ibu? Pasti ada saja ke khawatiran, ketakutan, atau perasaan apapun itu yang datang bahkan ke orang-orang yang mungkin sudah menantikannya bertahun-tahun. Jadi ibu pertama kali memang tidak mudah, coba siapa yang bisa bilang kalau jadi ibu mudah 100% ? Bahkan mungkin bagi yang berkecukupan, jadi Ibu tidak semudah itu …. ini anak manusia, bukan anak kucing yang tinggal dikasih makan aja selesai. 

Ini bukan soal hamil 9 bulan. Bukan bukan itu yang paling aku takutkan. Tapi bagaimana aku dan suami yang harus bertanggung jawab menjadi orangtua seumur hidup. Ini sangat berat. Ini ngga mudah, bahkan orang tua kami pun ngga sempurna dan tentunya ketidak sempurnaan ini tadi juga yang jadi beban agar kami bisa jadi lebih baik lagi tapi…. bagaimana caranya? ini pengalaman pertama bagi kami dan semua orangtua kan? 

Jujur… 3 bulan ini aku stress. Nangis tiap malam dan sering berantem tentu saja tidak bisa dihindari. Mencoba menolak tentu tidak bisa, mencoba menerima tentu sangat susah. Tapi…. terimakasih kepada diriku sendiri, karena stres ini bahkan tidak berdampak apapun terhadap diriku sendiri dan si kecil. Ternyata sistem imun dan tubuhku ini sangat kuat yaa, aku bahkan baru menyadarinya sekarang. Di saat calon ibu lain mungkin mengalami stress yang bikin drop, tapi aku tidak. 

Terimakasih juga tentunya kepada suami tercinta yang sungguh sangat sangat sabar menghadapi rewelnya aku 3 bulan terakhir ini. Yang sangat sangat supportif dalam segala hal. 

Kalau ditanya, apakah aku ingin menyerah? jawabannya TIDAK. Sekalipun tidak pernah terpikir olehku untuk menyerah. Aku hanya butuh waktu berpikir jernih dan menyusun segala strategi yang diperlukan. Aku hanya perlu momen dimana akhirnya aku bisa menerima 100% dan bisa menyiapkan diriku lahir dan batin untuk menjadi seorang ibu. 

Tidak gampang memang, butuh waktu beberapa minggu hingga akhirnya akhu berhenti menangis setiap malam dan menerima keadaan yang sekarang. Tapi tidak pernah sedetikpun aku berpikir untuk menyerah. Aku mungkin hanya terlalu malas untuk berpikir bagaimana seharusnya aku berusaha atau bagaimana seharusnya aku bertindak hingga akhirnya aku terlalu larut dengan keadaan dan menyalahkan diri sendiri. 

Tapi akhirnya…. aku bisa berdamai dengan diri sendiri. Aku akhirnya bisa dengan santai menerima keadaan. Keadaan yang aku maksud disini adalah perubahan hormon, nafsu makan, mood dan segala hal yang memang berubah sangat sangat drastis dan itu juga yang membuatku semakin semakin stress….. 

Aku harus memaksakan diriku makan makanan yang aku ngga suka. Aku bahkan ngga bisa memakan makanan yang biasa aku makan. Aku ngga bisa masak karena bau nya yang selalu bikin mual. Aku juga gak bisa melihat olahan sayur padahal itu yang harus aku makan. Aku ngga bisa makan banyak, perutku selalu sakit setiap malam dan pagi hari. Aku sesekali juga terpaksa muntah karena terlalu mual. Dan masih banyak lagi….. 


Awalnya tentu saja ini sulit. Sangat sangat sulit. Apalagi harus bertahan di kondisi serangan virus covid yang bikin aku ngga bisa kemana-mana alias ngga bisa cari hiburan lain selain harus dirumah aja, itu juga bikin aku makin makin stres. 

Apalagi banyak sekali yang bikin postingan mengenai kehamilan di masa Covid-19. 
Banyak yang menyinggung kok pada hamil masal? Banyak yang menyarankan buat tidak hamil. Banyak juga yang menyalahkan beberapa pasangan yang kok harus hamil di saat seperti ini. 

Yang jelas, ini bukan kehendak kami, melainkan kehendak Tuhan YME. Aku hamil bahkan jauh sebelum tahu kalau covid bakalan berefek sebegitu besar di negara ini. Kalau bisa memilih jangan dulu…. mungkin aku mau bilang jangan dulu ya Allah…. kasihan si kecil. Tapi ternyata Allah memberikan jawaban yang lain kan? Di saat banyak musibah yang menyerang, mungkin ini memang rezeki bagi keluarga kecil kami. 

Stress melihat semua komentar netizen? tentu sajah! Tapi…. ternyata aku kuat. Aku ngga nyangka ternyata diriku bisa sekuat ini menahan segala emosi dan hormon yang berubah drastis. Aku juga ngga nyangka ternyata aku mampu melewati trimester pertama dengan hati bahagia. 

Walaupun masih di awang-awang, belum terpikir 100% bagaimana sih caranya jadi ibu yang baik dan sempurna. Tapi…. bukannya tidak ada yang sempurna yaa di dunia ini? Kita semua belajar bersama kan? Justru…. dari belajar itu kita bisa perlahan menjadi paham mana yang baik dan buruk. Tidak perlu jadi sempurna kan? :) 

So….. selamat datang di Rahimku, sayang. Masih ada perjalanan 6 bulan lagi yaa buat kita bertemu. Mari kita berjalan perlahan yaaa! Aku dan Ayahmu masih sama-sama belajar buat jadi orangtua yang baik buat kamu. Jadi…. tolong bersabar dan maafkan kesalahan yang sudah aku buat beberapa bulan terkahir. 

Yuk kita berjuang bertiga yaa! 

Kita pasti bisa :D

You Might Also Like

0 comments ♥

Instagram Feed